Oleh: Haris Istanto | 14 Juli 2012

PENENTUAN AWAL BULAN HIJJRIAH

Tahun ini penentuan awal bulan Romadhon tahun 1433 H berpeluang untuk memunculkan perbedaan, sebagian masyarakat yang menganut paham hisab (analitis) sudah menentukan bahwa awal Romadhon jatuh pada besok tanggal 20 Juli 2012, sementara yang lainnya masih menantikan hasil rukyat (pengamatan) munculnya hilal (bulan sabit) pada hari Kamis malam Jum’at tanggal 19 Juli yang bertepatan dengan tanggal 29 Sya’ban. Apabila pada tanggal tersebut hilal bisa dilihat maka hari Jum’at tanggal 20 Juli adalah tanggal 1 Romadhon, namun apabila hilal tidak dapat dilihat, maka bulan Sya’ban digenapkan menjadi 30 hari sehinga tanggal 1 Romadhon jatuh pada hari Sabtu tanggal 21 Juli.

Seperti diketahui penanggalan Hijjriyah berpedoman bahwa 1 bulan adalah waktu yang diperlukan bulan untuk mengelilingi bumi satu putaran yaitu 29,5306 hari sehingga satu bulan adalah 29 atau 30 hari dan satu tahun adalah 12 bulan atau satu tahun adalah 354 hari atau 355 hari (setiap tiga tahun sekali, semacam tahun kabisat pada sistim penanggalan matahari).
Secara hisab awal bulan ditentukan dengan berpedoman pada dua peristiwa yaitu :
– Ijtimak (konjungsi) telah terjadi sebelum matahari terbenam.
– Bulan terbenam setelah matahari terbenam atau matahari terenam lebih dulu dari bulan.
Kalender Hijjriah disusun pedoman hal tersebut, namun hanya untuk dipergunakan untuk kegiatan umum, adapun penetapan bulan-bulan Romadhon, Syawal dan Dzulhijjah karena berkaitan dengan kegiatan keagamaan yaitu puasa Romadhon, Idul Fitri dan Idul Adha berdasarkan pada hadis Nabi : “Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal. Jika terhalang maka genapkanlah (istikmal)”, maka penentuan awal bulan-bulan tersebut perlu dibuktikan dengan rukyat.

Berkaitan dengan hal tersebut selanjutnya muncul beberapa paham sebagai berikut :

  1. Paham Hisab, kelompok ini membuat kalender Hijjriyah dengan kriteria seperti tersebut diatas, selanjutnya menggunakan kalender tersebut baik untuk kegiatan umum maupun untuk menentukan waktu pelaksanaan kegiatan keagamaan seperti puasa Romadhon, Idul Fitri dan Idul Adha.
  2. Paham Rukyat, kelompok ini membuat kalender Hijjriyah sama seperti paham hisab akan tetapi penggunaannya hanya terbatas untuk kegiatan umum. Adapun penentuan waktu pelaksanaan kegiatan keagamaan seperti puasa Romadhon, Idul Fitri dan Idul Adha akan dilakukan dengan rukyat.
  3. Paham imkanur Rukyat, kelompok ini membuat kalender Hijjriyah yang penentuan awal bulan yang berkaitan dengan adanya kegiatan keagamaan, tidak hanya berdasarkan pada dua peristiwa seperti pada kelompok Hisab, akan tetapi ditambah beberapa persyaratan lagi sehingga diharapkan hasil rukyat akan sama dengan kalender tersebut. Adapun tambahan persyaratan yang dimaksud adalah :
    • Pada saat matahari terbenam, ketinggian (altitude) Bulan di atas cakrawala minimum 2°, dan sudut elongasi (jarak lengkung) Bulan-Matahari minimum 3°.
    • Pada saat bulan terbenam, usia Bulan minimum 8 jam, dihitung sejak ijtimak.

Mudah-mudahan uraian ini bisa membuka wawasan kita dan dapat secara arif menyikapi fenomena perbedaan penetapan awal puasa Romadhon. Pada posting kami terdahulu kami pernah membahas yang serupa dengan judul : Mengapa terjadi perbedaan Idul Adha 1431 H di Indonesia, silahkan klik untuk melihat posting tersebut.

Referensi :
1. tdjamaluddin.wordpress.com
2. id.wikipedia.org
3. rukyatulhilal.org
4. komda-fsh.blogspot.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: