Oleh: Haris Istanto | 30 November 2010

MENGAPA TERJADI PERBEDAAN IDUL ADHA 1431 H DI INDONESIA

Assalaamu’alaikum warohmatulloohi wabarokaatuh.

Pada tahun 1431 H ini umat Islam di Indonesia melaksanakan Idul Adha tidak bersamaan, sebagian melaksanakannya pada hari Selasa 16 Nopember dan sebagian yang lain melaksanakannya pada hari Rabu 17 Nopember sesuai dengan ketetapan pemerintah.
Mengapa hal ini bisa terjadi?
Seperti kita ketahui penanggalan Islam adalah sistim penanggalan yang berpedoman pada bulan yang didalam bahasa Arab disebut dengan penanggalan Qomariyah (bahasa Arab Qomar = bulan). Pada sistim ini, satu hari adalah waktu yang ditempuh oleh bumi untuk berputar satu kali putaran (revolusi), satu bulan adalah waktu yang diperlukan bulan untuk mengelilingi bumi satu putaran yaitu 29,5306 hari sehingga satu bulan adalah 29 atau 30 hari dan satu tahun adalah 12 bulan atau satu tahun adalah 354 hari (atau 355 hari setiap tiga tahun sekali, semacam tahun kabisat).

Perlu diketahui dan diperhatikan bahwa pada sistim penanggalan bulan, awal/pergantian hari terjadi pada waktu matahari terbenam (Maghrib), berbeda dengan sistim penanggalan matahari dimana awal/pergantian hari terjadi pada pukul 24.00 tengah malam.
Adapun sebagai pedoman apakah suatu bulan berumur 29 hari atau 30 hari adalah, apabila pada tanggal 29 pada bulan tersebut saat matahari terbenam posisi bulan telah berada di atas ufuk atau bulan lebih lambat terbenam daripada matahari, maka malam tersebut adalah tanggal 1 bulan berikutnya atau umur bulan yang baru lalu hanya 29 hari. Namun apabila pada saat itu posisi bulan masih dibawah ufuk atau bulan terbenam lebih dulu dari matahari maka malam itu adalah tanggal 30 bulan tersebut sedangkan tanggal 1 bulan berikutnya adalah besok malamnya.
Untuk mengetahui apakah pada waktu matahari terbenam pada tanggal 29 posisi bulan sudah berada diatas ufuk atau masih dibawah ufuk maka dipakai perhitungan-perhitungan dengan ilmu Falaq (disebut secara hisab/analitis) yang kini dikenal dengan ilmu Astronomi. Selanjutnya dengan hisab dapat disusun kalender Qomariyah seperti yang kita kenal saat ini. Sepanjang penggunaan kalender itu untuk keperluan sehari-hari atau keperluan bisnis maka tidak ada masalah. Namun untuk keperluan ibadah yaitu untuk menentukan awal dan akhir bulan Romadhon dimana umat Islam harus melaksanakan ibadah puasa dan menentukan awal bulan Dzulhijjah dimana ibadah haji dilaksanakan, timbul perbedaan penafsiran.

Didalam salah satu Hadits Nabi Muhammad bersabda :
“Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal. Jika terhalang maka genapkanlah (istikmal)”.

Didalam hadist tersebut kata ”melihat hilal” yang artinya adalah ”melihat bulan sabit” ada yang mengartikan bahwa hilal/bulan sabit harus bisa dilihat secara langsung dengan mata, namun ada pula yang mengartikan bahwa melakukan perhitungan dengan ilmu Falaq adalah cara untuk melihat hilal/bulan sabit tersebut.
Berdasarkan perbedaan pemahaman tersebut maka munculah kriteria penentuan awal bulan Romadhon, awal bulan Syawal dan awal bulan Dzulhijjah sebagai berikut :

1) Wujudul Hilal

Adalah kriteria penentuan awal bulan kalender Qomariyah yang dilakukan secara hisab/analitis berdasarkan ilmu Falaq/Astronomi dengan berpedoman pada dua peristiwa yaitu :
– Ijtimak (konjungsi) telah terjadi sebelum matahari terbenam.
– Bulan terbenam setelah matahari terbenam.
Apabila dua peristiwa tersebut terjadi maka pada petang hari tersebut dinyatakan sebagai awal bulan kalender Qomariyah, tanpa melihat berapapun sudut ketinggian (altitude) Bulan saat Matahari terbenam dan mempertimbangkan apakah hilal dapat dirukyat atau tidak.

2) Rukyatul Hilal

Adalah kriteria penentuan awal bulan kalender Qomariyah dengan melakukan rukyat/pengamatan hilal/bulan sabit secara langsung pada tanggal 29 bulan Sya’ban, Romadhon dan Dzulqoidah. Apabila hilal/bulan sabit tidak terlihat atau gagal terlihat, maka bulan berjalan digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari.
Penganut Rukyatul Hilal berpendapat bahwa hisab adalah sebagai alat bantu bukan sebagai penentu masuknya awal bulan-bulan tersebut.
Hisab dilakukan untuk dapat memperkirakan posisi dan waktu ijtimak serta munculnya hilal, selanjutnya berdasarkan hasil hisab tersebut dilakukan rukyah, apabila hilal dapat dilihat maka malam itu adalah tanggal 1 bulan Romadhon, Syawal atau Dzulhijjah, apabila hilal tidak dapat dilihat maka malam itu adalah tanggal 30 bulan Sya’ban, Romadhon atau Dzulqoidah sedangkan tanggal 1 bulan Romadhon, Syawal atau Dzulhijjah adalah besok malamnya.

3) Imkanur Rukyat

Melakukan rukyatul hilal atau mengamati munculnya bulan sabit adalah bukan pekerjaan yang mudah sebab posisi bulan sabit yang masih rendah menyebabkan visibilitas dan intensitas cahayanya masih lemah, sedangkan kecerahan langit pada waktu matahari terbenam masih masih cukup kuat, sehingga penampakan hilal hanya samar-samar. Makin rendah posisi hilal dan umur hilal terhitung mulai ijtimak, makin lemah visibilitas dan intensitasnya cahanyanya sehingga makin sulit untuk bisa diamati.

Berdasarkan Musyawarah Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), penentuan awal bulan Hijriyah pada Kalender Resmi Pemerintah, dilakukan dengan prinsip bahwa awal bulan (kalender) Hijriyah terjadi apabila :
• Pada saat matahari terbenam, ketinggian (altitude) Bulan di atas cakrawala minimum 2°, dan sudut elongasi (jarak lengkung) Bulan-Matahari minimum 3°.
• Pada saat bulan terbenam, usia Bulan minimum 8 jam, dihitung sejak ijtimak.
Dengan pertimbangan bahwa melaksanakan rukyah terhadap hilal apabila kondisinya dibawah ketentuan tersebut diatas secara ilmiah tidak mungkin dapat dilaksanakan meskipun dengan menggunakan peralatan optik yang dilengkapi dengan alat pemandu bulan.

Menurut teori Danjon yang banyak dianut oleh para ahli astrnomi, menyatakan bahwa hilal dapat diamati apabila sudut elongasi Bulan terhadap Matahari minimal sebesar 7º, kurang dari 7º sampai 2º hanya dapat diamati dengan menggunakan peralatan optik yang dilengkapi dengan alat pemandu bulan dan kurang dari 2º tidak mungkin dapat diamati.
Konsekwensi dari kesepakatan MABIMS ini adalah bahwa klaim seseorang di Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura yang menyatakan dapat melihat hilal dengan kondisi dibawah ketentuan tersebut diatas akan ditolak.

Kementrian Agama Republik Indonesia, secara rutin pada hari terjadinya ijtimak setiap tanggal 29 pada bulan Sya’ban, Romadhon dan Dzulqoidah, melalui Badan Hisab Rukyat (BHR) melakukan kegiatan rukyat (pengamatan visibilitas hilal) pada 53 titik pengamatan yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia yang dilengkapi dengan peralatan yang memadai dan tenaga yang terlatih. Hasil pengamatan tersebut dibahas pada Sidang Itsbat antara jajaran Kementrian Agama dengan seluruh perwakilan organisasi keagamaan Islam yang ada di Indonesia, untuk memutuskan apakah pada malam tersebut telah memasuki bulan (kalender) baru, atau menggenapkan bulan berjalan menjadi 30 hari.

Untuk menentukan tanggal 1 bulan Dzulhijjah 1431 H, menurut hisab yang dilakukan oleh Badan Hisab Rukyat (BHR) Kementrian Agama, maka pada hari Sabtu tanggal 6 November 2010 yang bertepatan dengan tanggal 29 Dzulqoidah 1431 H, ijtimak terjadi pada pukul 11:52 WIB. Pada saat matahari terbenam pada tanggal tersebut ketinggian hilal di seluruh wilayah Indonesia antara 0 derajat 19 menit sampai dengan 1 derajat 21 menit.  Sementara itu pengamatan yang dilakukan dari 53 pos pengamat yang tersebar diseluruh Indonesia tidak ada satupun yang berhasil melihat hilal.
Berdasarkan hal tersebut, maka setelah diadakan Sidang Itsbat dikeluarkan Keputusan Menteri Agama Nomor : 150/2010 tentang PENETAPAN 1 DZULHIJJAH 1431 H, yang jatuh pada tanggal 8 Nopember 2010 sehingga Idul Adha jatuh pada tanggal 17 Nopember 2010.

Menurut hisab Rukyatul Hilal Indonesia di Yogyakarta menyatakan bahwa ijtimak terjadi pada pukul 11.54, ketinggian hilal adalah 1 derajat 17 menit dan lama penampakan hilal adalah 7 menit, namun hilal tidak berhasil diamati sehingga bulan Dzulqoidah ditetapkan istikmal 30 hari.

Berdasarkan uraian tersebut diatas maka umat Islam di Indonesia yang menggunakan kriteria Wujudul hilal, dengan pertimbangan bahwa dari hasil hisab menyatakan kalau pada hari Sabtu tanggal 6 Nopember pada waktu matahari terbenam tinggi hilal di Indonesia antara 0 derajat 19’ sampai dengan 1 derajat 21’, maka umur bulan Dzulqoidah hanya 29 hari dan malam itu masuk tanggal 1 bulan Dzulhijjah sehingga Idul Adha jatuh pada tangal 16 Nopember 2010, meskipun 53 pos pengamat hilal yang tersebar diseluruh Indonesia tidak ada satupun yang berhasil melihat hilal.

Sedangkan umat Islam yang menggunakan kriteria Rukyatul hilal dan Ikmanur Rukyat, karena pada malam itu hilal tidak bisa dirukyat maka umur bulan Dzulqoidah istikmal 30 hari, sehingga tanggal 1 Dzulhijjah jatuh pada tanggal 7 Nopember dan Idul Adha jatuh pada tanggal 17 Nopember.

Selama ini pemerintah Saudi Arabia menggunakan kriteria Rukyatul Hilal, akan tetapi apabila pada tanggal 29 malam bulan Sya’ban, Romadhon atau Dzulqoidah ada klaim seseorang yang menyatakan dapat melihat hilal dan yang bersangkutan berani disumpah maka pemerintah mempercayai dan menetapkan malam tersebut adalah tanggal 1 Romadhon, Syawal atau Dzulhijjah tanpa mempertimbangkan apakah secara ilmiah visibilitas hilal memungkinkan atau tidak untuk bisa dirukyat.
Menurut perhitungan hisab, pada hari Sabtu tanggal 6 November 2010 bertepatan dengan tanggal 29 Dzulqoidah 1431 H di Saudi Arabia, ijtimak terjadi pada pukul 7:54 WAS, umur hilal pada waktu matahari terbenam adalah 9 jam 48 menit dengan ketinggian 0 derajat 42 menit. Dengan ketinggian hilal dibawah 2 derajat secara ilmiah sulit untuk bisa dirukyat meskipun dengan peralatan optik yang dilengkapi dengan peralatan yang mampu melakukan tracking secara akurat terhadap posisi bulan dan perlengkapan pencitraan hilal. Namun karena ada yang bersaksi telah melihat hilal dan yang bersangkutan bersedia disumpah, maka pemerintah Arab Saudi menetapkan malam tersebut adalah tanggal 1 Dzulhijjah 1431 H sehingga Idul Adha tahun 1431 H jatuh pada tanggal 16 Nopember 2010.

Bagaimana sikap kita dengan adanya perbedaan tersebut? Masyarakat mungkin bingung dengan adanya kejadian ini.
Agama adalah keyakinan dan Islam memberi kebebasan kepada umatnya untuk melaksanakan ijtihad apabila mampu (tentunya sesuai dengan tingkat penguasaan ilmu yang dimilikinya). Apabila merasa tidak mampu, bisa/boleh mengikuti mereka yang dipercaya/diyakini paling optimal dalam melaksanakan ijtihad. Insya Allah kita akan selalu mendapatkan hidayah dari-Nya.

Demikian yang bisa kami sampaikan, apabila apa yang kami sampaikan itu benar maka kebenaran itu datangnya dari Allah, apabila ada kekeliruan itu semata-mata karena kedangkalan pengetahuan kami, untuk itu kami mohon ma’af dan hidayah-Nya. Summa ssalaamualaikum waroh matulloohi wabarokaatuh.

Referensi :
http://rukyatulhilal.org/
http://id.wikipedia.org/
http://tdjamaluddin.wordpress.com/


Responses

  1. […] awal puasa Romadhon. Pada posting kami terdahulu kami pernah membahas yang serupa dengan judul : Mengapa terjadi perbedaan Idul Adha 1431 H di Indonesia, silahkan klik untuk melihat posting […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: