Oleh: Haris Istanto | 31 Mei 2010

DI SURABAYA DAN SEKITARNYA BELUM BISA

Antara tanggal 26 Mei sampai dengan 30 Mei 2010 kemaren ada peluang bagus bagi umat Islam di Indonesia untuk melakukan penyesuaian/pengecekan arah kiblat yang selama ini kita anut. Hal ini disebabkab karena pada tanggal-tanggal tersebut posisi matahari pada waktu berada pada titik kulminasinya di Makah adalah tepat berada diatas Ka’bah. Dengan demikian wilayah disekitar Mekah/Arab Saudi yang mengalami siang hari bersamaan dengan Mekah/Arab Saudi dapat melakukan penyesuaian/pengecekan arak Kiblat dengan menggunakan pengertian bahwa : “bayangan benda vertikal pada bidang horisontal adalah garis yang menuju kearah Ka’bah (kiblat)”. Indonesia yang geografis posisinya berada disebelah tenggara Mekah/Arab Saudi mempunyai peluang untuk mendapatkan manfaat dari fenomena alam tersebut. (Referensi : Posting Bapak T. Djamaluddin , Profesor Riset Astronomi-Astrofisika LAPAN, Anggota Badan Hisab Rukyat Kementerian Agama RI,   pada situs : http://www.tdjamaluddin.wordpress.com/2010/04/15/menyempurnakan-arah-kiblat-dari-bayangan-matahari/).

Hari Rabu tanggal 26 Mei 2010, saya menunggu waktu tersebut yang menurut perhitungan Profesor T. Djamaluddin, peristiwa tersebut  akan terjadi pada pukul 16.18 WIB. Namun sayang pada hari ini diwilayah Surabaya dan sekitarnya sepanjang hari ini cuaca berawan/mendung sehingga matahari tidak kelihatan sama sekali,  dan hari ini saya tidak bisa melakukan penyesuaian/pengecekan arah kiblat.

Hari Kamis tanggal 27 Mei 2010, sempat terjadi gerimis ringan pada pagi hari sekitar pukul 6.30 WIB kemudian seharian cuaca berawan/mendung sehingga matahari tidak kelihatan sama sekali sepanjang hari ini, dan pada hari ini saya tidak bisa melakukan penyesuaian/pengecekan arah kiblat.

Jum’at tanggal 28 Mei 2010, pagi hari cuaca cerah matahari bersinar terang, tidak banyak terdapat awan/mendung dilangit sampai sesudah solat Jum’at. Namun mulai sekitar pukul 14.00 awan/mendung mulai mendominasi langit bahkan sekitar pukul 15.00 matahari tidak kelihatan sama sekali. Kembali hari ini saya tidak bisa melakukan penyesuaian/pengecekan arah kiblat.

Sabtu tangal 29 Mei 2010, pagi hari cuaca cerah matahari bersinar terang tidak banyak terdapat awan/mendung dilangit, namun sesudah tengah hari cuaca diliputi mendung tipis sehingga matahari antara kelihatan dan tidak. Dengan susah payah saya dapat melihat bayangan remang-remang tongkat pada lantai yang saya gunakan untuk menentukan arah kiblat. Mengingat hasil pengamatan yang kurang efektif maka saya berharap hari terakhir besok, bisa mendapatkan hasil pengamatan yang lebih baik.

Hari Minggu tanggal 30 Mei 2010, hari in cuaca cerah matahari bersinar terang tidak banyak terdapat awan/mendung dilangit. Pada pukul 13.18 WIB saya menadai posisi bayang-bayang tongkat yang memotong garis busur yang saya buat, begitu juga pada pukul 14.18 WIB. Menjelang pukul 15.00 WIB awan dan mendung kembali menutup matahari sehingga pada pukul 15.18 saya tidak bisa melihat bayang-bayang tongkat yang memotong garis busur yang saya buat. Seandainya pada pukul 15.18 saya bisa menandai bayang-bayang tongkat pada garis busur yang saya buat, maka saya dapat melakukan analisa untuk melakukan extrapolasi mementukan garis potong bayang-bayang tongkat pada garis busur yang saya buat apabila pada pukul 16.18 matahari tidak terlihat. Dengan hanya menandai dua posisi garis bayang bayang tongkat pada garis busur (hasil pengamatan pukul 13.18 WIB dan 14.18 WIB), saya hanya mendapatkan satu sudut pergeseran matahari dalam kurun waktu satu jam, sehingga kalau ini langsung dijadikan acuan untuk melakukan extrapolasi untuk menentukan posisi garing bayang-bayang tongkat yang memotong garis busur pada pukul 15.18 WIB dan 16.18 WIB saya merasa kurang sreg.

Berdasarka pengamatan yang telah saya lakukan tersebut maka dapat dibuat kesimpulan sebagai berikut :

  1. Pengamatan dapat dilakukan dengan efektif apabila cuaca cerah, tidak ada awan/mendung yang menutup sinar matahari. Mudah-mudahan pada tanggal 16 Juli 2010 nanti hal ini bisa terjadi, insya Allah.

  2. Pengamatan bisa dilakukan apabila beda waktu antara Mekah dengan tempat pengamatan maksimum 4 jam, sehingga intensitas sinar matahari ditempat pengamatan masih cukup kuat.

  3. Sesuai dengan uraian pada butir 2 maka untuk di Indonesia pengamatan hanya bisa dilakukan di Wilayah Indonesia Barat (WIB), untuk Wilayah Indonesia Tengah (WITA) dan Wilayah Indonesia Timur (WIT) sulit/tidak mungkin bisa dilakukan pengamatan. Antara tanggal 26-30 Mei waktu Magrib untuk Surabaya dan sekitarnya adalah pukul 17.24 WIB, sehingga untuk WITA dan WIT yang waktu Magribnya lebih awal  akan sulit/tidak mungkin melakukan pengamatan.

  4. Ada baiknya melakukan pengamatan sejak 3 jam sebelumnya dengan menandai bayang-bayang benda vertikal pada garis busur/lingkaran yang dibuat dengan titik pusat benda vertikal tersebut untuk mengantisipasi agar bisa melakukan extrapolasi apabila pengamatan pada saat yang ditentukan tiak dapat dilaksanakan misalnya matahari tertutup awan/mendung atau memang intensitas sinar matahari sudah melemah.

Demikian hasil pemgamatan dan kesimpulan yang bisa saya lakukan. Apabila yang saya lakukan itu benar, maka kebenara itu adalah semata-mata dari Allah, namun apabila salah maka kesalahan itu adalah karena masih dangkalnya pengetahuan saya.


Responses

  1. Luar biasa. Tulisan bapak sangat informatif. Pada hari jumat lalu, ketika saya melaksanakan shalat Jumat di Jakarta, khatib juga telah menginformasikan tentang fenomena yang terjadi itu. Namun terlepas dari apa yang bapak sampaikan dalam tulisan bapak, saya berfikir bahwa hal itu mungkin dapat di lakukan oleh para mereka yang memiliki keahlian. Sedangkan bagi orang awam mengenai ketentuan arah kiblat (seperti saya), hendaknya memang harus ada pihak yang berkompeten untuk menyiarkan atau menginformasikan terkait arah kiblat yang saharusnya untuk tiap2 wilayah di Indonesia, apabila hal itu dinilai sebagai suatu yang substantif guna melaksanakan ibadah Shalat.

  2. Wah sangat bermanfaat infonya, makasih atas sharingnya.

  3. thanks infonya bos

  4. mantap infonya…

  5. Di jepara juga pada hari-hari itu sering mendung & hujan. Kita tunggu pendapat para ahlinya saja.
    Baca posting terbaru kami : “Jadi Jutawan Berkat Souvenir Menawan”.

  6. shiiip,,,,,,meski lom sprti ..yG d inGinkan^_^

  7. tulisan yang mantaff…
    di tempat kami juga berencana melakukan hal serupa, tapi karena pada jam-jam tersebut pas hujan jadi belum juga terlaksana,

  8. Salam persahabatan dan salam kenal, sobat.

    Lex dePraxis
    Unlocked!

  9. Alhamdulillah, dapat satu petang yang cerah. Hasil pengamatan sekitar 1 jam, terutama pada saat kumandang adzan zuhur (jum’at 28 Mei) dari masjidil haram Mekkah bertepatan 17.22wita, arah kiblat hampir tak berbeda dengan arah sehari-hari. Adanya tonggak/tiang atau benda tegak yg betul2 tegak lurus bumi adalah keharusan agar dpt bayangan yg benar pada kisaran saat kulminasi matahari diatas ka’bah. Maha besar Allah.

    • Subhaanallah, Allahu akbar, selamat atas keberhasilannya melakukan pengecekan arah kiblat. Apalagi Anda diwilayah WITA yang saatnya sudah menjelang senja sehingga kalau kondisi cuaca tidak benar-benar ideal sulit untuk bisa melakukan pengamatan.

  10. bermanfaat sekali tulisannya,,, mohon izin untuk mem-bookmarks-nya…

    Salam Hangat Selalu

  11. info yang berguna… saya simpan ya pak…

  12. Insya Allah sudah dilaksanakan Bos.

  13. 17 juli 2010, apa fenomena itu terjadi lagi ya….mudah2an terjadi….Ya Allah kabulakan Ya Allah..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: